Kini kulihat kamu dari kejauhan dengan senyum dan tawa yang bukan lagi aku alasan dari tawa itu. Sejak kapan kamu sebahagia itu? Sejak pergi dari aku?. Aku memang bodoh, dulu aku menyia-nyiakanmu, rupanya kamu tidak paham aku punya cara tersendiri untuk menyayangimu. Sayangnya cara yang aku gunakan telah menyakitimu membuat perlahan semua rasamu terhadapku hilang. Aku memang egois hingga saat inipun tetap sangat egois. Aku kehilangan semua kebahagiaanku karna keegoisanku. Pikiranku selalu dapat menguasaiku. Seperti rasaku untukmu jauh bahkan jauh dalam lubuk hatiku terdalam aku masih saja 'stuck' padamu masih sangat menyayangimu, tapi jauh dalam pikiranku aku membenci dirimu membenci atas segala perilakumu yang begitu menyayat hati dan emosiku. Aku lupa bahwa manusia hanya bisa bertahan dengan dua keseimbangan yaitu pikiran dan hati yang beriringan sedangkan aku? Jika menggunakan hati saja maka aku akan selalu dan terus tersakiti dan jika hanya menggunakan pikiran hanya akan ada keegoisan dan semakin rumitnya suasana. Adakah yang tau bagaimana cara menyeimbangkan hati dan pikiran agar tercipta menjadi sejalan? Mungkinkah ini bisa dikatakan antara cinta, benci dan karma? Yang mana yang lebih tepatnya?.
Ade Vionita Pramaysella